jumlah pengunjung

Selasa, 10 Mei 2016

CERITA ANAK MISKIN PENGEN KULIAH


PENGEN KULIAH, Ibu.. Ayah

Kenapa.. kenapa harus aku? Semua takdir yang terjadi padaku bukanlah sebuah kebetulan. bukan pula sebuah cerita yang bisa terukir indah dalam hidup. Kenyataanku tak sesuai dengan harapanku. Tak dapat kurasakan bahagia itu, tak dapat kurasakan genggaman kasih sayang seorang ayah yang kurindukan, yang kudambakan. Tak dapat ku bandingkan diriku dengan orang lain. Kenyataannya aku berbeda dengan orang lain. Begitupun dengan kehidupanku. Aku berbeda, aku tak sama dengan mereka. Namun dalam hati ini tak dapat kutahan kesedihanku saat takdir seperti ini yang harus kujalani.
“Hey, akhirnya kita lulus juga jeki..” Sahut herli dan leri menyela lamunanku.
“Iya ni..” Singkatku.
“Kuliah dimana kamu nanti jeki?”
“Gak tau nii, kayaknya disini saja.”
“Kenapa gak di luar kota? aku sih rencana di lampung jeki..”
“Gak tau juga aku, masih bingung.”
Apakah aku bisa kuliah atau tidak aku pun tak tau, karena tidak ada biaya. ibuku pasti tak sanggup membiayainya, ucapku dalam hati.
“Hey, melamun lagi. Ayo kita ke kantin temenin bayar utang-utangku sama Bi mimin.” Ucap herli dan leri sambil merangkul bahuku dan kami pun berlalu menuju kantin.
Rasa syukur dan bahagia menyertai semua teman-temanku. Mereka sangat senang karena 3 tahun SMA yang telah dijalani akhirnya bisa lulus juga dan pasti bisa melanjutkan ke universitas yang terbaik di indonesia. Tapi untuk aku tidak. Tidak ada harapan, tidak ada kemungkinan dan mungkin tidak ada lagi peluang aku untuk bisa seperti mereka. Niatku untuk kuliah sangat kuat tapi berat rasa ini jika niat saja yang ada tapi biayanya tidak ada. Yang ku tau “uang bukanlah segalanya.. tapi segalanya butuh uang.. Allah… sakit hati ini, hati ini tak mampu bertahan ketika keinginan tak bisa kuraih.
Waktu menunjukkan jam 5 sore. ibuku yang hanya seorang penyadap karet pulang dengan rasa lelah yang jelas terlihat di raut mukanya. ibuku setiap hari berjalan kaki untuk sampai di pemotongan. Perjalanan yang sangat jauh yang harus ditempuh untuk mencapai pemotongan. Miris hatiku melihatnya. Namun apa dayaku aku tak bisa berbuat apapun. Aku malah memaksa ingin kuliah padahal jelas-jelas itu tak mungkin.
Malam itu ibuku berkata padaku,
“Nak kamu cari kerja yah, buat lamarannya.”
“Kok kerja? aku mau kuliah buk”
“Iya tapi kan ibu gak punya biayanya. Yah kamu sambil kerja nanti kalau bisa ya kuliah.”
“ibu kok maksa, pokoknya aku mau kuliah. Kalau sudah bisa kuliah aku semangat buk kerja.” sambil menitikan air mata aku pun menangis. Aku langsung pergi ke kamar. Diam beribu bahasa, hanya dapat menangis dan menangis sampai akhirnya terlelap.

TAPI

Aku sangat salut kepada ibu ku
Tak gampang membesarkan anak sendirian, bekerja apapun demi anak. Tak gampang tapi ibuku bisa!
Dia wanita kuat, tegar, tak putus asa. Dia ibu terbaik!
Dia tak pernah malu apa yang dia kerjakan selama itu halal dan demi anaknya. Dia segalanya buat diriku walaupun terkadang aku pernah membuatnya kecewa karena sikapku.
Seiring sejalan pun cepat pula berlalu. Ingatanku terus membayangkan bisa kuliah di tahun ini.
“buk bentar lagi pendaftaran di tutup. Aku mau daftar.” ibuku hanya diam saja.
“buk… aku mau kuliah aku mau daftar pokoknya.” Ucapku seakan kesal.
“ibuk tau nak.. ibuk juga bingung. Kamu juga belum dapat kerja bagaimana nanti bayarnya. ibuk juga gak ada uang nak..” Ucap ibukku sambil menghela nafas.
“Coba besok ibuk usaha pinjam. Siapa tau ada jalannya. Sabar ya nak..” Tambahnya sambil menghela nafas.
Aku pun langsung ke kamar, sambil menitikkan air mata. Tak kuat ku menahan asa, melihat mata ibukku tadi yang menunjukkan rasa bingung. Aku tau beliau banyak yang sedang difikirkannya. “Aku kasian buk sama ibuk… tapi aku pengen kuliah juga buk…” sambil menangis dalam tidurku.
Malam itu aku dan ibukku berbincang-bincang.
“nak ibu sudah usaha pinjam tapi gak dapat juga.” Aku pun diam.
“ibu sudah bingung. Kalau mau gadai surat rumah gak bisa juga nak.”
kembali ku terdiam. Aku diam memikirkan semua. Aku yakin aku tidak bisa kuliah. Aku juga gak tega dengan ibuku. Apakah aku harus terus-terusan memaksa ibuku? Tega kah aku membiarkan ibuku sedih dengan semua permintaanku.
Dia yang rela melakukan apapun demi aku. Bahkan sampai aku sudah lulus seperti ini tapi masih meminta padanya? Aku bingung.. semuanya tak dapat ku fikir dengan logika. Perasaanku lebih dalam dari logikaku.
“Ya sudah kalau gak kuliah gak papa.” Jawabku pelan.
“ibu sudah usaha nak tapi ya kenyataannya begini. Gak papa ya nak, jangan kecewa, jangan putus asa. Tetap semangat kerja ya.”
Tak kujawab ucapan ibuku, aku pergi ke kamar dengan rasa sedih.
Sedih.. kecewa.. pengen teriak tapi tak bisa. Di tengah malam kupanjatkan doaku pada Allah. Aku menangis dalam setiap aduanku. Tak bisa kutahan lagi, tangisanku mengalir terus hingga aku terisak-isak.
“Ya Rabb… ikhlaskan hatiku untuk menerima ini semua. Tegarkan aku, kuatkan aku. Aku hanya bisa mengadu padaMu ya Allah.. berikan aku jalan terbaikMu. Aku yakin takdirMu lebih baik dari semuanya. Aku tak mau membuat ibuku sedih. Sudah cukup ia rasakan kepedihan selama ini. Allah… aku hidup karenaMu, aku mati pun karenaMu.. aku milikMu ya Allah…” terisak batin ini, tersedu-sedu ku meluap dalam tangisanku ini. Sakit hati ini… kembali ku menangis hingga tertidur dalam sajadahku.
Esok pun tiba. Hari dimana semua orang mulai mendaftar kuliah. Kecuali aku. orang.
, aku berkata pada ibuku,
“buk aku gakpapa. Aku gak kecewa sama ibu. Aku gak kecewa sama semua orang. Aku kecewa pada diri sendiri. Mungkin ini sudah takdir Allah. Aku berusaha tetap tersenyum buk,” sambil kuteteskan air mata.
“Aku kerja aja buk. Gak usah kuliah buk. Aku…” Rasa tangis ini lagi tak tertahan lagi.
“Sudah nak jangan nangis. ibuk ngerti nak perasaanmu. Sabar nak..”
Sambil memelukku erat.
“Iya udah aku gakpapa kok buk. Aku ikut ibu nyadap karet ya buk”
“iya nak . .emang kamu mau, Jangan dipikirin nak.”
“iya buk aku mau..”
Sepanjang jalan menuju pemotongan aku terus melamun. Memikirkan semuanya. Dalam hati hanya berkata-kata,
“Pasti enak ya yang bisa kuliah hari ini. Tapi aku gak boleh gitu. Kan udah janji gak boleh sedih. Nanti Allah marah kalau aku gak bisa terima takdir ini. Aku bisa memotivasi orang, aku selalu memberikan semangat pada teman-temanku tapi untuk membuat diriku semangat lagi susah.. gak gampang. Tapi mulai hari ini aku ingin menulis ceritaku ini. Aku ingin jadi penulis yang bisa memberi semangat semua
Setelah sampai. Langsung ku mulai kerja. Tersadar lagi dan kuucap, “Waktu belum bisa memungkinkan aku untuk bisa kuliah tahun ini. Begitupun dengan waktu sampai saat ini, belum bisa menemukanku dengan seorang Ayahku sendiri. Mungkin perlu waktu kembali untuk merubah semuanya. Tapi dalam relung hati yang terdalam ini.. aku masih menunggumu ayah. Menunggu kasih sayangmu yang hilang bertahun-tahun, yang tak pernah aku rasakan sedikit pun. Tapi sampai kapan? Akankah semua ini terjawab? Ya Allah… semuanya aku pasrahkan padaMu.” lagi dan lagi aku terhanyut dalam kesedihan. ah sudah aku gak boleh cengeng. Aku harus bisa bangkit. Harus bisa! bismillah…
Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti bisa menjadikan takdir ini berubah menjadi lebih baik lagi. Kesibukanku kini ku lewati agar aku tak merasakan kecewa lagi. Hari-hari kini kulalui. Walau kadang sedih menerpa tapi tetap ku berjuang demi sosok seorang ibu. Keluarga, dan teman2. Dan kini aku lewati semua sampai waktu itu tiba… sampai kepastian itu datang… dan sampai semua orang bahagia karena aku…